Pentagon Tetap Memilih Microsoft Sebagai Pemenang Kontrak JEDI

59 sec read

Pentagon memilih Microsoft sebagai pemenang JEDI
Photo by DON JACKSON-WYATT on Unsplash

TeknoCerdas.com – Salam cerdas untuk kita semua. Meskipun Pentagon mendapat keberatan dari AWS atas pemilihan Microsoft untuk JEDI. Pentagon tetap memilih Microsoft sebagai pemenang kontrak JEDI sebesar $10 milyar dollar. Sebuah kontrak dengan nilai yang cukup fantastis.

Seperti diketahui sebelumnya bahwa Microsoft adalah pemenang lelang yang diadakan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Lelang ini dikenal dengan nama Joint Enterprise Defense Infrastructure atau disingkat JEDI.

Dilansir dari ZDNet pihak Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengatakan bahwa mereka telah melakukan evaluasi ulang secara komprehensif dan menemukan bahwa proposal dari Microsoft tetap menawarkan nilai yang terbaik.

Keputusan ini masih terus ditentang oleh AWS. Pada blog resmi mereka AWS menilai keputusan pemilihan Microsoft sebagai pemenang lelang bernuansa politis dan tidak adil. AWS menilai proposal mereka lebih baik dari Microsoft baik dari segi teknologi yang ditawarkan dan track record mereka selama ini dengan pihak agensi Pemerintahan. Total sudah 6.500 agensi pemerintahan yang menggunakan layanan cloud computing AWS.

Pihak Microsoft sendiri seperti dilansir dari ZDNet mengatakan bahwa mereka mengapresiasi Departemen Pertahanan Amerika Serikat yang telah melakukan review mendalam dan tetap memilih Microsoft karena alasan teknologi dan nilai yang lebih baik.

Sekilas Tentang Proyek JEDI

Proyek JEDI merupakan proyek peremajaan sistem dengan menggunakan cloud computing yang dilakukan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Skema pemenang kontrak adalah dengan sistem lelang.

Proyek ini bernilai $10 milyar dollar dan lelang diikuti oleh raksasa cloud computing seperti AWS, Microsoft, Google, Oracle, REAN Cloud dan IBM. Sampai pada akhirnya hanya tersisa dua kandidat yaitu Microsoft dan AWS.

Pada 25 Oktober 2019 Microsoft terpilih sebagai pemenang kontrak setelah sebelumnya pada bulan Agustus 2019 Presiden Amerika Serikat, Donald Trump meminta proses lelang dibekukan sementara.